Minggu, 14 Juni 2009

Polemik Poboya Walhi: Pemerintah Harus Pikirkan Solusi Ekonomi

Garda Sulteng, Senin 15 Juni 2009
Polemik Poboya
Walhi: Pemerintah Harus Pikirkan Solusi Ekonomi
Palu, Garda Sulteng – Polemik terkait penertiban di lokasi pertambanga Kelurahan Poboya Kecamatan Palu Timur oleh pemerintah, terus mengundang komentar. Sebab, lokasi pertambangan diketahui sebagai sumber pendapatan ekonomi masyarakat lokal, namun disisi lain jika penambanga terus dilakukan akan mengganggu keseimbangan ekosistem lingkungan.
Kepada Garda Sulteng, Sabtu (13/6) pekan kemarin, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Sulteng, Andika Setiawan, mengatakan ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah terkait polemic yang terjadi di lokasi penambangan.
Pertama kata Andika, pemerintah harus clear bicara soal alasan untuk menertibkan para penambang tersebut. Sebab, kalau alasannya hanya karena kerusakan ekologis maka Bumi Resource harus diperlakukan sama. Kedua, jika memang pemerintah serius memperhatikan soal dampak ekologis dari aktivitas penambangan, maka hal ini juga harus berlaku bagi semua industry pertambangan yang ada termasuk Bumi Resources.
“Kita sepakat masyarakat di tertibkan, tetapi pemerintah harus terlebih dahulu memastikan alternative ekonomi bagi masyarakat Poboya, sehingga ini tidak berakibat pada pengusiran masyarakat dari akses sumber daya alamnya,” tegas Andika.
Ditambahkan, sejauh ini Walhi terus melakukan kajian atas kisruh di Poboya, karena katanya, problem ini sangat rentan dengan kepentingan berbagai pihak jadi tidak serta merta bertindak dadakan.
“Menurut kita, pemerintah harus bisa mencari solusi alternative ekonomi sehingga hal ini tidak merugikan secara ekonomi kepada masyarakat. Kita memahami betul bahwa sebagian karena desakan ekonomi. Tapi yang perlu diperhatikan juga soal masa depan mereka atas lingkungannya. Biar bagaimanapun tambang merupakan pekerjaan yang memiliki batas dan ambang waktu produksi, jika hal itu tidak diperhatikan maka apa yang mereka lakukan adalah ancaman bagi basis produksi dasarnya yaitu tanah,” jelas Andika. FIT

Tidak ada komentar: