Minggu, 06 September 2009

Murad: PLN Pembohong Besar Takut Kehilangan Subsidi

Mercusuar, Senin 7 September 2009

Murad: PLN Pembohong Besar
Takut Kehilangan Subsidi


PALU, MERCUSUAR - Ketua DPRD Provinsi Sulteng, Murad U Nasir dan Walikota Palu, Rusdy Mastura secara blak-blakan mengatakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PLN) Cabang Palu sebagai pembohong besar. Karena selama ini, PLN tidak punya itikad baik dalam perbaikan krisis energi listrik di Kota Palu dan Sulteng.
Hal itu, terungkap dalam diskusi bertema krisis listrik dan pengembangan wisata teluk Palu yang digelar mahasiswa KKN Stisipol Panca Bhakti Palu, di kampus itu, Minggu (6/9) petang.

Anggota DPR RI yang baru terpilih itu juga mengatakan bahwa PLN berbohong dengan mengatakan bisa menyuplai dan melayani listrik dengan baik kepada warga kota dan sekitarnya, padahal kebutuhan listrik terus meningkat.

“Kalau dulu, kebutuhan listrik masih relatif sedikit, karena barang-barang yang memerlukan listrik masih sedikit. Sementara sekarang justru semakin berlipat kebutuhan listrik itu dengan hadirnya komputer dan alat elektronik lainnya. Sehingga penambahan daya harus dilakukan PLN,” tukasnya.

Sementara menurut Cudy—sapaan karib Walikota Palu, PLN merupakan instansi yang bertanggung jawab sepenuhnya atas krisis listrik bukan pemerintah daerah. Sebab, listrik merupakan tanggung jawab pemerintah pusat yang dilimpahkan kepada PLN yang memonopoli urusan listrik.

“PLN takut kehilangan pekerjaan dan subsidi yang ia terima, kalau pengelolaan listrik itu berpindah ke daerah atau swasta. Bayangkan saja, dengan subsidi yang mencapai Rp400 M untuk operasi mesin PLTD yang dibayar Rp2600 per KWh. Sementara untuk PLTU hanya dibayar Rp465 perKWh dan batubara harus dibeli Rp520 untuk setiap KWh,” tutur Cudy.

Ditambahkannya, janji PLN yang akan menaikkan nilai pembelian daya dari PLTU yang telah disepakati awal tahun ini, menjadi Rp700 perKWh hingga sekarang belum dibayarkan. Sehingga, PLTU terus merugi. Namun PLN meminta PLTU menyuplai 21 MW kalau tidak dipenalti.

“Kalau ada pendemo, PLN selalu mengalihkan bahwa kesalahannya, karena PLTU kurang daya dan alasan klasik lainnya. Padahal, pimpinan PLN sebelum Ramadhan telah menjajikan akan memelihara mesin PLTD, agar saat Ramadhan listrik tidak padam. Nyatanya PLN berbohong besar,” tukas walikota.

PLTU yang ada sekarang ini, lanjut Cudy merupakan bantuan Pemkot Palu kepada PLN dengan daya mencapai 2 x 15 MW, yang diusahakan dengan waktu dan tenaga yang lama, bahkan sampai ke negeri China. ”kami melobi untuk datangkan mesin dan pembangunannya. Sementara PLN dalam kebijakannya tidak terlalu merespon usaha Pemkot Palu, bahkan tidak peduli itu,” Cudy kesal.

“PLN seharusnya berterima kasih dengan hadirnya PLTU. Sebab bagaimana jadinya Kota Palu, kalau PLTU tidak jadi masuk, sementara PLN tidak pernah mengusahakan tambahan daya,” sindirnya.

Daya PLTU yang ada, lanjut Cudy, seharusnya diprioritaskan untuk Kota Palu bukan disuplai ke daerah Parigi maupun Donggala.

“Kalau daya PLTU diprioritaskan untuk Kota Palu, saya kira pemadaman di Palu tidak akan terjadi atau separah ini,” imbuhnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya (5/9) Kepala PLN Cabang Palu Imran Rosyidi yang dihubungi mengaku, pemadaman bergilir sampai di atas 12 jam terpaksa diberlakukan karena ketersediaan daya pada saat beban puncak mengalami defisit. Selama Ramadhan, kata Imron, terjadi kenaikan pemakaian daya oleh warga sebesar 2 Mega Watt (MW). Sehingga total pemakaian daya untuk 200 ribu pelanggan Palu, sebagian Donggala dan Parigi mencapai 52 MW, dengan asumsi, setiap rumah menambah daya pemakaian sebanyak 10 watt. Padahal sebelum Ramadhan, penggunaan daya saat beban puncak PLN hanya mencapai 50 MW.

Belum lagi saat ini, mesin unit 8 pada PLTD Silae masih dalam perbaikan. Pihaknya menargetkan beberapa hari menjelang lebaran, baru mesin itu dapat beroperasi kembali.

Kenaikan daya itu terjadi selama Ramadhan karena aktivitas warga bertambah, saat sahur dan berbuka. Oleh karena itu, pihaknya menghimbau masyarakat untuk melakukan penghematan penggunaan daya sebesar 10 watt per rumah, khusus saat sahur dan buka puasa agar pemadaman bergilir tidak berlangsung terus menerus. “Tadi (kemarin), bersama Pemprov, Deprov dan Walikota, kami mengajak seluruh pelanggan untuk melakukan penghematan penggunaan listrik,” katanya (5/9).

Ia meminta masyarakat bisa bersabar dengan proses ini, sambil menunggu penambahan mesin berkekuatan 5 MW dari Manado setelah MoU antara Pemprov, PLN, dan PT Sewa Tama dilakukan. Dari pengadaan mesin itu, Pemprov akan membantu Rp3,5 miliar, sisanya Rp1,5 miliar akan ditanggulangi PLN Palu.
“Untuk sementara 5 MW dulu untuk menunggu realisasi PLTA Sulewana yang beroperasi lagi satu tahun dan penambahan dua unit mesin PLTU yang kemungkinan bisa beroperasi satu setengah tahun mendatang,” katanya. STY/DAR

Tidak ada komentar: