Rabu, 27 Juli 2011

DAS Terancam, Warga Tolak Galian C


Press Release untuk Segera disiarkan
Kamis, 28 Juli 2011
Forum Pemerhati Rano Bungi, Sigi
Kontak : Ipul (081525829782)

DAS Terancam, Warga Tolak Galian C

Sore kemarin, 5 orang perwakilan warga Desa Kabobona bertemu dengan Direktur WALHI Sulteng untuk mengadukan masalah yang mereka alami seputar rencana masuknya tambang galian C di desa mereka. Menurut mereka, warga desa Kabobona tidak setuju dengan keputusan sepihak dari Pemerintah Desa Kabobona dalam hal ini Kepala Desa yang telah bersepakat dengan pihak perusahaan yang akan menambang pasir di desa mereka.

Warga khawatir, jika PT.Ariscon yang diisebut-sebut sebagai perusahaan yang akan menambang di desa mereka akan menimbulkan kerusakan lingkungan terutama daerah aliran sungai (DAS). Selama ini warga mati-matian menjaga agar DAS mereka tidak rusak agar tidak terjadi banjir di desa mereka seperti beberapa waktu lalu. Disamping itu juga di sekitar DAS ini ada delta yang sudah menjadi lokasi wisata pemancingan oleh warga sekitar maupun dari luar desa. Lokasi yang bernama Rano Bungi inipun sudah diresmikan oleh Badan Lingkungan Hidup Kab. Sigi sebagai asset wisata daerah ini. Kekhawatiran warga Kabobona cukup beralasan, selain ancaman bagi DAS juga potensi objek wisata juga akan hilang jika di muara delta ada penambangan pasir.

Namun hal ini rupanya tidak menjadi perhatian serius oleh Kepala Desa Kabobona, karena beliau tetap bersih keras membolehkan PT. Ariscon menambang di wilayah desanya lepas dari kejelasan SIPD (Surat Ijin Pertambangan Daerah) dimiliki atau tidak oleh perusahaan ini demi pemasukan kas desa.

Atas dasar keprihatinan inilah maka, warga Desa Kabobona sudah mengadukan kasus ini ke DPRD Kab. Sigi yang rencananya akan di hearing pada Selasa (2/8/2011) depan.
WALHI Sulteng sendiri menilai bahwa, pertambangan Galian C sebenarnya sudah seharusnya di evaluasi mengingat beberapa kasus yang marak di Kab. Donggala, dan Sigi juga Kota Palu cukup merusak kondisi DAS yang ada. Sehingga bukan saatnya lagi mengeleuarkan ijin-ijin baru tetapi wajib melakukan evaluasi pada ijin yang sudah ada dan melakukan recovery lingkungan.

Hal lain juga, harusnya pemerintah daerah maupun aparat desa melirik potensi desa yang ada untuk dikembangkan seperti misalnya desa Kabobona yang mayoritas warganya bekerja sebagai pengrajin batu merah, harusnya ini dikembangkan dan di kelola pasarnya sehingga tingkat kesejahteraan mereka juga jauh lebih baik dan secara otomotais kas desapun akan terpenuhi tanpa harus mengorbankan lingkungan. ***

Rabu, 08 Juni 2011

Suganda Terima Penghargaan Walhi Award 2011

Kamis, 9 Juni 2011
Media Alkhairat
PALU-Suganda (42), warga Jalan Nenas Palu Barat ini nyrais tak percaya kalau ia akan mendapat penghrgaan, lakon hidup mengais sampah plastis dan besi tua yang ia jalani selama 20 tahun terakhir, mendapat apresiasi dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulteng. Rabu (8/6) di restoran kampoeng nelayan, ia menerima penghargaan sebagai orang yang peduli atas lingkungan.
Sepintas penghargaan itu hanya bersifat biasa, namun bagi bpak empat anak ini, sungguh uar biasa. Matanya sedikit bekaca-kaca saat menerima piagam penghargaan dari Willianita Selviana, Direktur Eksekutif Walhi Sulteng. Ia tak menyangka, kala upaya untuk menyambung hidup anak dan istrinya dengan mengais sampah itu mendapat perhatian orang lain.
Berdasarkan pengakuannya, profesi tersebut terpaksa ia lakukan karena hampir tak ada pilihan alternatif pekerjaan lain yang lebih layak dan menjanjikan.”kalau ada pekerjaan lain tak butuh modal banyak, mungkin saya akan beralih, tapi apa daya, untuk makan sehari saja saya sudah sangat bersyukur,”Katanya.
Beban hidupnya agak sedikit longgar karena bisa mengeyengolahkan anaknya dengan adanya bantuan dana Bantuan Operasi Sekolah (BOS). Dengan bantuan tersebut, si sulung, saat ini telah duduk, masih duduk di bangku kelas 2 SMK 1 Palu. Sementara si bungsu, masih duduk dibangku kelas 3 SD. Selain mendapat bantuan pendidikan bagi anak-anaknya. Sebagai warga negara yang taat administrasi, ia juga mendapat Jamkesmas dan mendapat jatah Raskin setiap kali ada pembagian. Ia sangat bersyukur atas hal itu.
Pria rantau asal sukabumi Jawa barat ini, mengaku tak bisa membayangkan mengumpulkan bekas plastik kemasan air mineral dan besi tua itu nyaris hanya bisa dimakan sehari. Untung saja, pekerjaan istrinya yang membantu keuangan keluarga dengan menjadi buruh cuci bagi warga tetangga berjalan lancer.” Kalau besi tua harganya Rp. 2.500 per kilo. Sedangkan untuk plastic bekas air mineral Rp. 1.500 per kilo,” katanya. Untuk 1 kilo besi tua, tekadang ia harus bejalan seharian mengelilingi penjuru kota palu, menyambangi tempat pembuangan sampah rumah tangga warga.”Kalau lagi rejeki, bisa dapat 3 kilo sehari. Kalau ada kegiatan rame-rame, kita biasa banyak dapat gelas bekas air minum itu dan langsung dijual. Sebab beratnya bisa sampai 5 kilo,’tambahnya.
Setiap pagi layaknya warga lain, ia telah siap mengayu sepeda yang sudah dipasang bak dibagian depan, untuk mengais rejeki menyambung hidup keluarganya. Suganda selalu yakin dan percaya diri bahwa apa yang ia lakukan itu halal dan tidak membebani atau merampas hak orang lain. Ia bangga dengan profesinya dan yakin betul kalau usahanya itu bisa mengantarkan anak-anaknya pada mimpi dan cita-citanya masing-masing kelak.(SAHRIL)

Go Green, Memulihkan atau Menghancurkan ?


*Wilianita Selviana

Hampir semua hal kini di hubung-hubungkan dengan masalah lingkungan. Setiap rencana pembangunan, kini mulai berhati-hati dan mulai bicara peduli terhadap kondisi lingkungan. Anehnya hal ini baru giat-giatnya dilakukan saat kondisi lingkungan makin terpuruk.
Slogan Go Green menjadi pilihan paling mujarab saat ini. Banyak orang kini bicara soal Go Green bukan hanya pecinta lingkungan tapi juga para pengambil kebijakan bahkan tak ketinggalan para perusak lingkunganpun membeo dengan slogan ini.
Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu juga tak mau tinggal diam dengan upaya pemulihan lingkungan. Program Go Green pemerintah daerah ini mulai dicanangkan dengan Palu Green & Clean. Slogan inipun hangat dibicarakan dalam berbagai kesempatan mulai dari tentang penertiban tata ruang, penertiban sampah hingga perlindungan hutan sebagai daerah tangkapan air yang selama ini menjadi sumber kehidupan.
Fakta ternyata tak seindah slogannya, akibat pembiaran yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Palu selama ini warga Kota Palu kini terancam. Lebih dari 300.000 orang yang tinggal di kota Palu terancam akibat dari meningkatnya kadar merkuri di atmosfir, kontaminasi ke dalam rantai makanan, dan meningkatnya kadar merkuri di dalam air minum. Menurut hasil penelitian yang tidak dipublikasikan oleh Pemkot sendiri, sekitar 18 ton merkuri per tahun jumlah ini menguap terlepas ke atmosfir melalui pembakaran amalgam. Ditambah lagi 102 ton Hg per tahun yang terbawa limbah dan terangkut ke dalam tong-tong sianida di mana materi tercampur dengan bahan kimia kemudian dibuang ke saluran air sebagai senyawa merkuri-sianida yang sangat mudah larut dalam air dan menyebar ke ekosistem.
Hal ini rupanya tak menjadi masalah yang meresahkan bagi Pemkot, karena sepertinya ‘pembiaran’ ini adalah bagian dari skenario untuk memuluskan industri tambang yang sejak sepuluh tahun belakangan terpaksa harus menahan diri untuk mengeruk emas Poboya karena penolakan masyarakat. Kini tak ada lagi yang menjadi penghalang, rencana eksplorasi dan eksploitasi PT. Citra Palu Mineral (Bumi Resources, Tbk) sudah mendapatkan lampu hijau dengan ‘pembiaran’ yang dilakukan oleh Pemkot Palu selama ini atas Poboya.
Memang ironi, ditengah upaya mewujudkan Go Green yang didengung-dengungkan selama ini untuk pemulihan lingkungan ternyata dibaliknya tersembunyi sebuah rencana besar yang akan menghancurkan lingkungan. Entah ada yang terusik atau tidak dengan tulisan ini, hanya saja saya terusik dengan sebuah Baliho besar yang Bertuliskan “Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2011, Hutan Penyangga Kehidupan, Save Green and Clean, Stop! Pemanasan Global (Pemerintah Kota Palu, Badan Lingkungan Hidup & PT. Citra Palu Minerals)”. ***
*Direktur Walhi Sulteng
**Tulisan ini untuk mengingatkan banyak orang yang sedang menikmati Long Weekend bahwa tgl. 5 Juni 2011 adalah Hari Lingkungan Hidup Sedunia