Media Alkhairat, Selasa 30 Maret 2010
Hutan Bangkiriang Terancam Punah
PALU – Anggota Komisi III Bidang Pembangunan DPRD Sulteng, Sakinah Aljufri mengakui kerusakan hutan Suaka Margasatwa Bangkiriang seluas 3900 hektar di Kecamatan Batui Kabupaten Banggai, akibat eksploitasi.
Menurutnya, eksploitasi tersebut terkait perluasan lahan perkebunan kelapa sawit milik PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS). Hal tersebut dikatakan Sakinah berdasarkan peninjaunnya yang didampingi Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Banggai di daerah Batui beberapa waktu lalu.
“Sudah hampir sebagian kawasan Bangkiriang menjadi lokasi perkebunan kelapa sawit,” katanya kepada media ini Senin (27/03), diruang kerjanya. Kata dia persoalan tersebut bisa memicu konflik antara masyarakat dengan pihak perusahaan.
“Ini tingga menunggu gesekan sedikit, maka konflik di daerah tersebut tidak dapat dielakkan lagi. Karena, dari informasi masyarakat yang ada di daerah itu, lahan tersebut dijaga sejumlah aparat yang berpakaian loreng dan coklat, dan masyarakat sendiri tidak diperkenankan memasuki kawasan tersebut,” katanya.
Berdasarkan data foto satelit yang diperlihatkan dinas terkait kepadanya, Nampak jelas kerusakan lingkungan yang terjadi, dan itu sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup satwa didalam kawasan tersebut.
Ia berharap, Gubernur Sulteng segera menindak lanjuti persoalan itu.
“Ya, seharusnya Gubernur harus segera bertindak tegas, dengan mengundang pihak-pihak terkait, sehingga konflik di daerah tersebut dapat terhindarkan, dan kawasan suaka marga satwa di daerah Batui kembali lestari,” ujarnya.
Senada dengan Sakinah, Anggota Komisi III lainnya, Rusli Dg Palabi mengungkapkan flora fauna di kawasan Bangkiriang merupakan potensi daerah yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Dia juga menambahkan, pemerintah daerah harus bersikap adil dalam menindak lanjuti persoalan tersebut, sehingga masyarakat tidak dirugikan dengan kebijakan pemerintah nantinya. (NANDAR)
Senin, 29 Maret 2010
Jumat, 26 Maret 2010
PT INA Eksploitasi Biji Besi Uekuli *PRODUKSI AWAL 50 RIBU METRIK TON
Media Alkhairat, Rabu 24 Maret 2010
PT INA Eksploitasi Biji Besi Uekuli
*PRODUKSI AWAL 50 RIBU METRIK TON
PALU - PT INA Internasional, perusahaan tambang asal China, akan memulakan eksploitasi biji besi di Desa Uekuli, Kabupaten Tojo Una-Una, dengan produksi 50 ribu metric ton (MT) dalam tiga bulan pertama. Demikian diungkapkan Direktur PT INA Internasional, Mr Liem Tean, dalam kesempatan ekspose potensi tambang biji besi di Hotel Swissbell, Selasa kemarin.
“Kami berencana dalam tiga bulan pertama memproduksi 50 ribu MT dan berusaha menggandakan hingga 100 ribu MT perbulan setelah melewati tiga bulan masa awal produksi,” ungkap Liem dihadapan Gubernur HB Paliudju dan Wakil Gubernur Ahmad Yahya.
Ia mengatakan tidak menutup kemungkinan dengan kuasa pertambangan yang mereka miliki seluas 30 ribu hektar direncanakan bisa mencapai produksi hingga satu juta matrik ton perbulan. Terkait rencana tersebut, PT INA Internasional akan membangun infrastruktur pendukung yakni membangun pelabuhan di Uekuli yang dijadwalkan dekat tepatnya bulan April hingga Juni 2010.
“Bulan Maret sampai dengan April 2010 dilakukan survey hydrographic yang dilakukan oleh United Surveyor dari Singapura sebuah perusahaan yang memiliki reputasi baik dalam rangka pembangunan pelabuhan,” sebut Liem.
Liem menyebutkan investasi untuk pembangunan pelabuhan itu sendiri senilai USD 150 juta hingga USD 250 juta lebih lagi pada tahun 2011 hingga Juni 2012 akan membangun fasilitas pelabuhan yang dapat menangani kapal dengan berat 170 ribu penamax. Olehnya dukungan pemerintah provinsi dan kabupaten sangat penting dalam menjalankan proyek tambang biji besi.
Secara ekonomis, Liem mengatakan bahwa biji besi yang dihasilkan dari Uekuli melalui jalur pelayaran hanya memakan waktu 8,2 hari untuk mengirimkan ke pelabuhan Rizhao, pelabuhan terbesar kedua di China dan membutuhkan waktu 5,4 hari ke pelabuhan Guazhou.
Kalau pengiriman dari Negara Brazil membutuhkan waktu hingga 40 hari, jadi secara ongkos pengiriman, dari Uekuli lebih menguntungkan, terlebih lagi sekarang bahwa pasar biji besi dunia terbesar berada di China sebesar 60 hingga 80% katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sulteng Ahmad Yahya menyambut baik dan mendukung secara positif investasi yang masuk ke wilayah Sulteng sehingga akan memberikan nilai tambah baik bagi pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten penghasil.
“Investasi yang ada tentunya akan memberikan dampak pembangunan bagi daerah, kami senang adanya investor yang masuk tentunya dengan mengikuti semua persyaratan yang ada,” sambut Wagub memberikan apresiasi terhadap PT INA Internasional CO. (SRIHAFSA)
PT INA Eksploitasi Biji Besi Uekuli
*PRODUKSI AWAL 50 RIBU METRIK TON
PALU - PT INA Internasional, perusahaan tambang asal China, akan memulakan eksploitasi biji besi di Desa Uekuli, Kabupaten Tojo Una-Una, dengan produksi 50 ribu metric ton (MT) dalam tiga bulan pertama. Demikian diungkapkan Direktur PT INA Internasional, Mr Liem Tean, dalam kesempatan ekspose potensi tambang biji besi di Hotel Swissbell, Selasa kemarin.
“Kami berencana dalam tiga bulan pertama memproduksi 50 ribu MT dan berusaha menggandakan hingga 100 ribu MT perbulan setelah melewati tiga bulan masa awal produksi,” ungkap Liem dihadapan Gubernur HB Paliudju dan Wakil Gubernur Ahmad Yahya.
Ia mengatakan tidak menutup kemungkinan dengan kuasa pertambangan yang mereka miliki seluas 30 ribu hektar direncanakan bisa mencapai produksi hingga satu juta matrik ton perbulan. Terkait rencana tersebut, PT INA Internasional akan membangun infrastruktur pendukung yakni membangun pelabuhan di Uekuli yang dijadwalkan dekat tepatnya bulan April hingga Juni 2010.
“Bulan Maret sampai dengan April 2010 dilakukan survey hydrographic yang dilakukan oleh United Surveyor dari Singapura sebuah perusahaan yang memiliki reputasi baik dalam rangka pembangunan pelabuhan,” sebut Liem.
Liem menyebutkan investasi untuk pembangunan pelabuhan itu sendiri senilai USD 150 juta hingga USD 250 juta lebih lagi pada tahun 2011 hingga Juni 2012 akan membangun fasilitas pelabuhan yang dapat menangani kapal dengan berat 170 ribu penamax. Olehnya dukungan pemerintah provinsi dan kabupaten sangat penting dalam menjalankan proyek tambang biji besi.
Secara ekonomis, Liem mengatakan bahwa biji besi yang dihasilkan dari Uekuli melalui jalur pelayaran hanya memakan waktu 8,2 hari untuk mengirimkan ke pelabuhan Rizhao, pelabuhan terbesar kedua di China dan membutuhkan waktu 5,4 hari ke pelabuhan Guazhou.
Kalau pengiriman dari Negara Brazil membutuhkan waktu hingga 40 hari, jadi secara ongkos pengiriman, dari Uekuli lebih menguntungkan, terlebih lagi sekarang bahwa pasar biji besi dunia terbesar berada di China sebesar 60 hingga 80% katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sulteng Ahmad Yahya menyambut baik dan mendukung secara positif investasi yang masuk ke wilayah Sulteng sehingga akan memberikan nilai tambah baik bagi pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten penghasil.
“Investasi yang ada tentunya akan memberikan dampak pembangunan bagi daerah, kami senang adanya investor yang masuk tentunya dengan mengikuti semua persyaratan yang ada,” sambut Wagub memberikan apresiasi terhadap PT INA Internasional CO. (SRIHAFSA)
Rabu, 24 Maret 2010
HUTAN DI SULTENG, 200 Ribu Hektar Dikuasai Investor
Media Alkhairat, Rabu 24 Maret 2010
HUTAN DI SULTENG
200 Ribu Hektar Dikuasai Investor
PALU – Dari luas total 6,001,253 hektar hutan diwilayah Sulawesi Tengah, 200 ribu hektar diantaranya dikuasai investor dalam bentuk Izin Untuk Pertambangan (IUP). Demikian diungkapkan Kepala Bidang Pertambangan Umum, Dinas Pertambangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Tamben) Sulteng, Yusna Zaman, belum lama ini kepada Media Alkhairat saat ditemui di ruang kerjanya.
Ditanya soal nilai investasi dari sektor pertambangan di wilayah Sulawesi Tengah, Yusna mengaku tidak mengetahui, sebab daerah tidak pernah melaporkan hal tersebut.
“Tidak tahu, soalnya yang mengeluarkan kontrak karya dari pusat, jadi berapa PAD dari sektor ini pertambangan juga susah dideteksi,” ungkap Yusna.
Kata Yusna, Dinas Tamben juga belum menerima tembusan tiga perusahaan asal kota Balik Papan Kalimantan Timur, yang mengajukan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di hutan di wilayah Kabupaten Parigi Moutong dan Donggala. “Memang soal izin itu kewenangan daerah,” katanya.
Yusna mengungkapkan, ia mengetahui beberapa perusahaan tambang yang beroperasi di Kabupaten Banggai dan Morowali. Satu perusahaan nikel di wilayah Kabupaten Banggai kata dia, yakni PT Aneka Nusantara Internasional (ANI) yang telah mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang telah membekukan aktifitasnya sejak tahun 2009, dan mulai melakukan eksploitasi pada tahun itu juga.
PT ANI merupakan pemegang IUP untuk lahan seluas 7727 hektar, yang terletak di Kecamatan Bukit Kabupaten Banggai, pada lahan hutan produksi dan hutan konsesi. Meski begitu kata Yusna, hingga saat ini pihaknya belum mengetahui alasan PT ANI menghentikan aktifitas eksploitasinya.
“Kita tidak tahu, apa alasan mereka menghentikan eksploitasi, soalnya tidak ada juga laporan dari kabupaten. Lahan yang sudah mereka eksploitasi baru yang berstatus Areal Peruntukan Lain (APL),” ungkapnya.
Sementara itu, untuk perusahaan yang telah mengantongi IUP di wilayah Kabupaten Morowali, yakni PT Bintang Delapan dan PT Inco, yang hingga saat ini masih tetap melakukan aktifitas eksploitasi. Kata Yusna, PT Bintang Delapan yang terdiri dari delapan sub perusahaan tersebut, tiga diantaranya masi dalam tahap eksplorasi.
Masing-masing perusahaan PT Bintang Delapan memegang IUP untuk lahan, rata-rata seluas antara 4210 hektar hingga 4900 hektar, yang terletak di Kecamatan Bahodopi. Sedangkan kontrak karya yang dipegang PT Inco, di wilayah Kabupaten Morowali adalah seluas 30120 hektar. (JOKO)
HUTAN DI SULTENG
200 Ribu Hektar Dikuasai Investor
PALU – Dari luas total 6,001,253 hektar hutan diwilayah Sulawesi Tengah, 200 ribu hektar diantaranya dikuasai investor dalam bentuk Izin Untuk Pertambangan (IUP). Demikian diungkapkan Kepala Bidang Pertambangan Umum, Dinas Pertambangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Tamben) Sulteng, Yusna Zaman, belum lama ini kepada Media Alkhairat saat ditemui di ruang kerjanya.
Ditanya soal nilai investasi dari sektor pertambangan di wilayah Sulawesi Tengah, Yusna mengaku tidak mengetahui, sebab daerah tidak pernah melaporkan hal tersebut.
“Tidak tahu, soalnya yang mengeluarkan kontrak karya dari pusat, jadi berapa PAD dari sektor ini pertambangan juga susah dideteksi,” ungkap Yusna.
Kata Yusna, Dinas Tamben juga belum menerima tembusan tiga perusahaan asal kota Balik Papan Kalimantan Timur, yang mengajukan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di hutan di wilayah Kabupaten Parigi Moutong dan Donggala. “Memang soal izin itu kewenangan daerah,” katanya.
Yusna mengungkapkan, ia mengetahui beberapa perusahaan tambang yang beroperasi di Kabupaten Banggai dan Morowali. Satu perusahaan nikel di wilayah Kabupaten Banggai kata dia, yakni PT Aneka Nusantara Internasional (ANI) yang telah mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang telah membekukan aktifitasnya sejak tahun 2009, dan mulai melakukan eksploitasi pada tahun itu juga.
PT ANI merupakan pemegang IUP untuk lahan seluas 7727 hektar, yang terletak di Kecamatan Bukit Kabupaten Banggai, pada lahan hutan produksi dan hutan konsesi. Meski begitu kata Yusna, hingga saat ini pihaknya belum mengetahui alasan PT ANI menghentikan aktifitas eksploitasinya.
“Kita tidak tahu, apa alasan mereka menghentikan eksploitasi, soalnya tidak ada juga laporan dari kabupaten. Lahan yang sudah mereka eksploitasi baru yang berstatus Areal Peruntukan Lain (APL),” ungkapnya.
Sementara itu, untuk perusahaan yang telah mengantongi IUP di wilayah Kabupaten Morowali, yakni PT Bintang Delapan dan PT Inco, yang hingga saat ini masih tetap melakukan aktifitas eksploitasi. Kata Yusna, PT Bintang Delapan yang terdiri dari delapan sub perusahaan tersebut, tiga diantaranya masi dalam tahap eksplorasi.
Masing-masing perusahaan PT Bintang Delapan memegang IUP untuk lahan, rata-rata seluas antara 4210 hektar hingga 4900 hektar, yang terletak di Kecamatan Bahodopi. Sedangkan kontrak karya yang dipegang PT Inco, di wilayah Kabupaten Morowali adalah seluas 30120 hektar. (JOKO)
Langganan:
Komentar (Atom)